https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/04/10/m28wkr-kilau-baghdad-di-era-abbasiyah-2
Al-Qasr Az-Zahabi (Istana Emas).
Dinasti Abbasiyah adalah
kekhalifahan kedua
Islam yang berkuasa di
Baghdad
(sekarang ibu kota
Irak). Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari
Bani Umayyah
dan menundukkan semua wilayahnya kecuali
Andalusia.
Pendiri Dinasti Abbasiyah adalah Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin
Abdullah bin al-Abbas. Bisa dibilang dinasti ini disebut Abbasiyah karena
memang didirikan oleh keturunan Al-Abbas yang merupakan paman dari Rasulullah
SAW. Masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah yakni dari 750 M/132 H sampai 1258 M/656
H.
https://id.wikibooks.org/wiki/Islam_Abad_Pertengahan/Sejarah/Abbasiyah#/media/Berkas:Abbasid_Caliphate_most_extant.png
wilayah terluas dinasti abbasiyah
Kelompok dari Abbasiyah ini, jika dilihat dari garis keturunan, memang lebih
mendekati Nabi Muhammad dari pada bani Umayyah. Karena inilah, kelompok
Abbasiyah merasa lebih pantas untuk memimpin umat islam dibandingkan Bani
Umayyah. Hingga pada akhirnya, Dinasti Abbasiyah pun berdiri setelah
kekhalifahan terakhir Dinasti Umayyah, Marwan bin Muhammad, ditaklukkan.
Setidaknya, ada beberapa khalifah yang terkenal karena keberhasilannya
membawa Dinasti Abbasiyah pada puncak kejayaan. Pertama adalah Abu al-Abbas
al-Saffah. Pusat pemerintahan saat
itu berada di Kuffah. Ia dikenal tegas dan pada masa pemerintahannya ia
melakukan konsolidasi untuk memajukan peradaban Islam.
Kemudian, tonggak kepemimpinan digantikan oleh Abu Jafar al-Mansur yang
berkuasa dari 750 M sampai 775 M. Abu Jafar yang merupakan saudara dari Abu
al-Abbas ini memimpin selama 25 tahun. Saat memerintah, ia membangun ibu kota
baru bernama Baghdad. Di dalamnya terdapat istana yang dinamai Madinat
as-Salam.
Pusat pemerintahan pun dipindahkan dari Kuffah ke Baghdad. Di masa itulah,
ilmu pengetahuan mulai dibius untuk berkembang. Pada periode awal antara 750 M
sampai 847 M, Dinasti Abbasiyah masih mengutamakan kegiatan memperluas wilayah.
Dinasti ini juga membuat pondasi sistem pemerintahan yang menjadi pegangan di
kepemimpinan selanjutnya.
Seusai Abu Jafar al-Mansur, Dinasti Abbasiyah dipimpin oleh khalifah yang
dalam sejarahnya berhasil membawa dinasti tersebut ke puncak kejayaan. Ia
adalah Harun al-Rasyid, yang masa kepemimpinannya dari 789 M sampai 809 M.
Selama memimpin, ia mendirikan perpustakaan terbesar pada zamannya, bernama
Baitul Hikmah. Saat itu orang-orang baik dari kalangan Muslim maupun dari
Barat, turut datang ke kota Baghdad untuk mendalami ilmu pengetahuan.
Baitul Hikmah juga dijadikan sebagai tempat untuk menerjemahkan karya-karya
intelektual dari Persia dan Yunani. Beberapa proyek besar yang dihasilkan
selama pemerintahan Harun al-Rasyid, yakni keamanan dan kesejahteraan seluruh
rakyat, pembangunan Kota Baghdad, pembangunan sejumlah tempat ibadah, dan
sarana pendidikan.
Saat dipimpin Harun al-Rasyid, Dinasti Abbasiyah juga menaruh perhatian pada
pengembangan ilmu kesusasteraan, kebudayaan dan kesenian-kesenian lainnya.
Aktivitas keilmiahan di dinasti ini terus dilakukan pada berbagai bidang.
Kejayaan keilmuan di masa ini berkontribusi besar dalam memajukan peradaban
dunia kala itu. Bahkan hingga sekarang.
Setelah kepemimpinan Harun al-Rasyid berakhir, khalifah di masa Abbasiyah
yang masyhur setelahnya adalah al-Makmun al-Rasyid. Al-Makmun anak dari Harun
al-Rasyid. Kekhalifahan al-Makmun didahului oleh saudaranya, al-Amin.
Selama memimpin Dinasti Abbasiyah dari 813 M sampai 833 M, al-Makmun
memperluas Baitul Hikmah yang didirikan ayahnya, Harun al-Rasyid, sebagai
akademi Ilmu Pengetahuan pertama di dunia. Baitul Hikmah diperluas hingga
menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan, dan tempat penelitian. Di
dalamnya terdapat ribuan buku ilmu pengetahuan.
Lembaga lain yang didirikan al-Makmun adalah Majalis al-Munazharah. Lembaga
ini menyelenggarakan pengkajian keagamaan di rumah-rumah, masjid-masjid, dan istana
khalifah. Lembaga ini menjadi tanda kekuatan penuh kebangkitan Timur, di mana
Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan dan puncak keemasan
Islam.
Pada masa kepemimpinan al-Makmun, kegiatan penerjemahan mendapat sorotan
yang tinggi. Terutama penerjemahan naskah-naskah ilmu pengetahuan dan filsafat
tradisi Yunani. Penerjemah saat itu mendapat bayaran yang tinggi.
Setelah al-Makmun, kepemimpinan Dinasti Abbasiyah di ujung waktunya, adalah
Khalifah al-Mutawakkil dari 847 M sampai 861 M. Nama lengkapnya adalah
al-Mutawakkil Alallah, Jafar, Abu Al-Fadhl bin Mutashim bin Ar-Rasyid. Model
pemikirannya cenderung Ahlun Sunnah. Ini berbeda dengan khalifah sebelumnya
yang banyak menaruh perhatian pada pemikiran Muktazilah.
Sebelum lengser, al-Mutawakkil sudah merencanakan, bahwa sebelum dirinya
wafat, ia akan memberi mandat kepemimpinan kepada anak-anaknya. Pertama kepada
al-Muntashir, lalu al-Mu'taz dan kemudian al-Muayyad. Namun, al-Mutawakkil
mengubah mandat, dari sebelumnya kepada al-Muntashir, berubah kepada al-Mu'taz.
Namun al-Muntashir tidak mau. Karenanya al-Mutawakkil langsung menurunkan
posisi Al-Muntashir dengan paksa. Peristiwa ini bersamaan dengan
ketidaksenangan orang-orang Turki terhadap al-Mutawakkil karena beberapa
masalah. Karena menganggap al-Mutawakkil sebagai "musuh bersama",
lantas orang-orang Turki dan al-Muntashir bersepakat membunuh sang khalifah
atau ayah dari al-Muntashir sendiri.
Kekuasaan Dinasti Abbasiyah pun dipegang al-Muntashir, tapi hanya sekitar
enam bulan. Sebab setelah jabatan khalifah diraih, ia malah menjelek-jelekkan
orang Turki. Sehingga, orang Turki pun berencana membunuhnya. Upaya ini
dilakukan dengan cara memperalat seorang dokter istana yang bernama Ibnu
Thayfur dengan imbalan uang sebanyak 30.000 dinar.
Dokter tersebut melakukan aksinya saat mengoperasi Khalifah Al-Muntashir
dengan menggunakan pisau beracun. Sumber referensi lain menyebut wafatnya
al-Muntashir karena dicekik Namun yang dapat dipastikan, ia dibunuh oleh
orang-orang Turki yang telah membantunya membunuh al-Mutawakkil atau ayah
sendiri, untuk mendapat posisi khalifah.
Mulai dari situ, Dinasti Abbasiyah semakin merosot. Meskipun, ada banyak
faktor lain yang menyebabkannya jatuh. Misalnya tidak adanya kontrol terhadap
sejumlah provinsi sehingga ada beberapa yang memisahkan diri dari Baghdad.
Sedangkan kalau dilihat faktor eksternalnya, yakni karena adanya Perang Salib
dan serangan tentara Mongol.
https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/12/01/p08q0e396-melongok-kembali-kembali-dinasti-abbasiyah
https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Abbasiyah
https://id.wikibooks.org/wiki/Islam_Abad_Pertengahan/Sejarah/Abbasiyah