Minggu, 22 Maret 2020
Kamis, 16 Januari 2020
3 Rahasia Surat Al-Kahfi
Posted by ROHIS.SMAHA on Januari 16, 2020 with No comments
Surat Al Kahfi (110 ayat, Makkiyah) adalah surat mulia yang Rasulullah ๏ทบ menganjurkan kita untuk membacanya setiap hari Jumat.
Para shahabat Rasulullah pun seperti diriwayatkan Abi Said Al Khudri dan Abdullah bin 'Umar, membiasakan membaca Al Kahfi setiap hari Jumat. Diriwayatkan oleh Al Hakim dan Baihaqi, Rasulullah ๏ทบ bersabda, "Barangsiapa membaca Al Kahfi pada hari Jum'at, Allah akan memberinya cahaya sampai Jum'at berikutnya."
.
1. Makna "Al Kahfi"
Al Kahfi artinya "Goa" yakni tempat berlindung dari sinar matahari dan gangguan binatang buas. Para Ulama menelisik hikmah dari sebab dinamakan dengan Al Kahfi, diantaranya; surat ini melindungi pembacanya dari 4 fitnah/ujian yang dijabarkan di bentangan ayat-ayatnya.
Pertama, ujian keimanan (kisah pemuda penghuni goa) lalu ujian harta (kisah pemilik kebun) ketiga, ujian ilmu (kisah Musa bertemu Khidir) dan keempat, ujian kekuasaan (kisah Dzulqarnain) yang kesemuanya ada dalam kandungan Al Kahfi.
2. Apa Hikmah Disunnahkan Membaca Al Kahfi di Hari Jumat?
Hari Jum'at dalam banyak riwayat, adalah hari dimana akan terjadi Kiamat Kubra. Surat Al Kahfi sendiri juga mengisahkan tanda-tanda Kiamat seperti runtuhnya dinding yang menahan Yajuj dan Ma'juj. Dalam Al Kahfi inilah, Allah memberi kita sinyal untuk selalu siaga dan bersiap untuk terus berlindung dari fitnah terbesar sebelum tiba Kiamat; sang Dajjal.
3. Apa Hubungan Antara Al Kahfi dan Selamatnya Kita dari Fitnah Dajjal?
Qadhi Iyadh, Imam Al Qurthubi dan Imam Al Minawi menyimpulkan; siapa saja yang memahami makna ayat-ayat Al Kahfi, akan dapat menemukan cara untuk selamat dari fitnah Dajjal. Allah ๏ทป juga secara khusus memberikan perlindungan-Nya pada kaum beriman yang membaca dan menghafalkan surat Al Kahfi dari fitnah paling kelam sepanjang sejarah manusia; Dajjal.
Di surat ini pulalah, terdapat 4 ujian yang dengannya Dajjal akan banyak menyesatkan manusia; fitnah keimanan, harta, ilmu dan kekuasaan. Keempatnya dirangkum secara terang dalam Al Kahfi.
.
Referensi :
1. Tafsir Ibnu Katsir
2. Tafsir Ath Thabari
3. Asyrath As Sa'ah
Sumber: gen.saladin on ig
Rabu, 11 Desember 2019
Larangan Berkata Kasar dan Kotor
Posted by ROHIS.SMAHA on Desember 11, 2019 with No comments
Al Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunannya, dimana Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda:
ู َุง ุดَْูุกٌ ุฃَุซَُْูู ِْูู ู ِْูุฒَุงِู ุงْูู ُุคْู ِِู َْููู َ ุงَِْูููุงู َุฉِ ู ِْู ุฎٍُُูู ุญَุณٍَู َูุฅَِّู ุงَููู َُููุจْุบِุถُ ุงَْููุงุญِุดَ ุงْูุจَุฐِْูุกَ
"Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu'min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar."
(Hadits Riwayat At Tirmidzi nomor 2002, hadits ini hasan shahih, lafazh ini milik At Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahadits Ash Shahihah no 876)
⇒ Dalam hadits ini kita perhatikan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam mengkaitkan antara akhlaq yang mulia dengan lisan yang kotor. Seakan-akan bahwasanya kalau anda ingin menjadi orang yang berakhlaq yang mulia jangan memiliki lisan yang kotor.
Oleh karenanya diantara barometer yang paling kuat untuk menilai seorang itu akhlaqnya mulia atau tidak adalah dengan melihat lisannya, karena lisan itu ungkapan hati.
Sehingga bisa diketahui bagaimana hatinya, kesombongannya atau tawadhu'nya,
Husnuzhan atau su'uzhan semua bisa terlihat dari lisan, terlihat dari ungkapan-ungkapan lisannya yaitu bisa mengambarkan dari isi hatinya.
Maka benar jika demikian, standard atau barometer untuk menilai akhlaq seorang buruk dengan kita lihat lisannya.
Karenanya dalam hadits yang lain dalam Shahih Muslim, Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda:
ุฅَِّู ุดَุฑَّ ุงَّููุงุณِ ู َْูุฒَِูุฉً ุนِْูุฏَ ุงَِّููู َْููู َ ุงَِْูููุงู َุฉِ ู َْู َูุฏَุนَُู ุฃَْู ุชَุฑََُูู ุงَّููุงุณُ ุงุชَِّูุงุกَ ُูุญْุดِِู
"Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya pada hari kiamat disisi Allah adalah orang yang ditinggalkan oleh masyarakat."
(Hadits Riwayat Muslim nomor 2591)
Sumber:http://atturots.or.id/berita-larangan-berkata-kasar-dan-kotor.html#ixzz67ghPOrcE
ู َุง ุดَْูุกٌ ุฃَุซَُْูู ِْูู ู ِْูุฒَุงِู ุงْูู ُุคْู ِِู َْููู َ ุงَِْูููุงู َุฉِ ู ِْู ุฎٍُُูู ุญَุณٍَู َูุฅَِّู ุงَููู َُููุจْุบِุถُ ุงَْููุงุญِุดَ ุงْูุจَุฐِْูุกَ
"Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang paling berat ditimbangan kebaikan seorang mu'min pada hari kiamat seperti akhlaq yang mulia, dan sungguh-sungguh (benar-benar) Allah benci dengan orang yang lisannya kotor dan kasar."
(Hadits Riwayat At Tirmidzi nomor 2002, hadits ini hasan shahih, lafazh ini milik At Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahadits Ash Shahihah no 876)
⇒ Dalam hadits ini kita perhatikan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam mengkaitkan antara akhlaq yang mulia dengan lisan yang kotor. Seakan-akan bahwasanya kalau anda ingin menjadi orang yang berakhlaq yang mulia jangan memiliki lisan yang kotor.
Oleh karenanya diantara barometer yang paling kuat untuk menilai seorang itu akhlaqnya mulia atau tidak adalah dengan melihat lisannya, karena lisan itu ungkapan hati.
Sehingga bisa diketahui bagaimana hatinya, kesombongannya atau tawadhu'nya,
Husnuzhan atau su'uzhan semua bisa terlihat dari lisan, terlihat dari ungkapan-ungkapan lisannya yaitu bisa mengambarkan dari isi hatinya.
Maka benar jika demikian, standard atau barometer untuk menilai akhlaq seorang buruk dengan kita lihat lisannya.
Karenanya dalam hadits yang lain dalam Shahih Muslim, Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda:
ุฅَِّู ุดَุฑَّ ุงَّููุงุณِ ู َْูุฒَِูุฉً ุนِْูุฏَ ุงَِّููู َْููู َ ุงَِْูููุงู َุฉِ ู َْู َูุฏَุนَُู ุฃَْู ุชَุฑََُูู ุงَّููุงุณُ ุงุชَِّูุงุกَ ُูุญْุดِِู
"Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya pada hari kiamat disisi Allah adalah orang yang ditinggalkan oleh masyarakat."
(Hadits Riwayat Muslim nomor 2591)
Sumber:http://atturots.or.id/berita-larangan-berkata-kasar-dan-kotor.html#ixzz67ghPOrcE
Jumat, 22 November 2019
2 Tanda Manusia yang Harus Dijadikan Sahabat
Posted by ROHIS.SMAHA on November 22, 2019 with No comments
Dijaman yang semakin modern dan maju tampaknya sulit untuk menemukan orang-orang yang berpegang teguh sebagaimana yang dilalukan oleh orang-orang dahulu. Kemajuan teknologi dan berkembangnya ilmu pengetahuan terkadang harus dibayar mahal dengan menumbalkan norma dan tata nilai etis yang tidak tertulis di masyarakat. Akibatnya, sangat sulit menemukan sahabat dan kawan yang mampu menunjukkan dan mengawani kita menempuh jalan Tuhan.
Dalam kitabnya al-Hikam, Syeikh Ibn Atha’illah sudah mewanti-wanti agar kita benar-benar seksama dalam memilih kawan. Menurut Syeikh Ibn Atha’illah, ada dua tanda yang bisa kita gunakan untuk memantapkan pilihan hendak bersahabat dengan orang lain. Beliau berkata:
َูุง ุชَุตْุญَุจْ ู َْู َูุง ُِْูููุถُِู ุญَุงُُูู ََููุง َูุฏَُُّูู ุนََูู ุงِููู ู ََูุงُُูู
“Janganlah kamu berkawan dengan orang yang tindak-tanduknya tidak mampu membangkitkan kamu [untuk dekat dengan Allah SWT] dan ucapannya tidak mampu menunjukkan kamu kepada Allah SWT.”
Kalam Syeikh Ibn Atha’illah ini bisa kita jadikan pegangan. Setidaknya ada dua tanda orang yang harus kita jadikan sahabat dan teman;
Pertama, orang yang tidak-tanduknya, gerak-geriknya dan segala kondisinya mampu memotivasi kita untuk lebih dekat dengan Allah SWT. Ada orang yang ketika kita lihat dan kita dekat di sampingnya mampu melahirkan semacam aura positif bagi diri kita yang kemudian mendorong untuk melakukan hal-hal yang baik. Sebaliknya, ada juga orang yang hanya memancarkan aur negatif, sehingga kita pun terpapar dampaknya dan terdorong untuk melakukan hal-hal yang sia-sia, bahkan dilarang.
Kedua, orang yang perkataannya selalu menunjukkan kita kepada jalan Allah SWT. Orang yang perkataannya selalu mengandung pelajaran adalah orang yang bisa menjaga lisannya dari berkata hal yang sia-siap dan dilarang. Kata-katanya mengena dan mampu merubah kita. Setiap perkataan yang mampu menembus sanubari dan membawa perubahan pastinya adalah perkataan yang lahir bukan hanya dari mulut, tapi dari hati dan pembuktian si pengucap akan kata-kata yang dikeluarkannya.
Inilah dua tanda yang harus kamu jadikan pegangan ketika memilih sahabat dan teman. Dengan begitu, pertemanan dan persahabatan yang dijalin akan selalu melahirkan kebaikan dan menjadi wasilah untuk lebih dekat dengan Allah SWT.
Sumber:https://harakahislamiyah.com/nasihat/dua-tanda-manusia-yang-harus-kamu-jadikan-sahabat
Dalam kitabnya al-Hikam, Syeikh Ibn Atha’illah sudah mewanti-wanti agar kita benar-benar seksama dalam memilih kawan. Menurut Syeikh Ibn Atha’illah, ada dua tanda yang bisa kita gunakan untuk memantapkan pilihan hendak bersahabat dengan orang lain. Beliau berkata:
َูุง ุชَุตْุญَุจْ ู َْู َูุง ُِْูููุถُِู ุญَุงُُูู ََููุง َูุฏَُُّูู ุนََูู ุงِููู ู ََูุงُُูู
“Janganlah kamu berkawan dengan orang yang tindak-tanduknya tidak mampu membangkitkan kamu [untuk dekat dengan Allah SWT] dan ucapannya tidak mampu menunjukkan kamu kepada Allah SWT.”
Kalam Syeikh Ibn Atha’illah ini bisa kita jadikan pegangan. Setidaknya ada dua tanda orang yang harus kita jadikan sahabat dan teman;
Pertama, orang yang tidak-tanduknya, gerak-geriknya dan segala kondisinya mampu memotivasi kita untuk lebih dekat dengan Allah SWT. Ada orang yang ketika kita lihat dan kita dekat di sampingnya mampu melahirkan semacam aura positif bagi diri kita yang kemudian mendorong untuk melakukan hal-hal yang baik. Sebaliknya, ada juga orang yang hanya memancarkan aur negatif, sehingga kita pun terpapar dampaknya dan terdorong untuk melakukan hal-hal yang sia-sia, bahkan dilarang.
Kedua, orang yang perkataannya selalu menunjukkan kita kepada jalan Allah SWT. Orang yang perkataannya selalu mengandung pelajaran adalah orang yang bisa menjaga lisannya dari berkata hal yang sia-siap dan dilarang. Kata-katanya mengena dan mampu merubah kita. Setiap perkataan yang mampu menembus sanubari dan membawa perubahan pastinya adalah perkataan yang lahir bukan hanya dari mulut, tapi dari hati dan pembuktian si pengucap akan kata-kata yang dikeluarkannya.
Inilah dua tanda yang harus kamu jadikan pegangan ketika memilih sahabat dan teman. Dengan begitu, pertemanan dan persahabatan yang dijalin akan selalu melahirkan kebaikan dan menjadi wasilah untuk lebih dekat dengan Allah SWT.
Sumber:https://harakahislamiyah.com/nasihat/dua-tanda-manusia-yang-harus-kamu-jadikan-sahabat
Minggu, 03 November 2019
Hukum Memotong Kuku saat Haid
Posted by ROHIS.SMAHA on November 03, 2019 with No comments
Imam Asy-Syarwani berkata dalam Hasyiyah kitabTuhfatul Muhtaj,"Disunnahkan bagi orang yang berjunub untuk menunda mengambil anggota badannya (seperti memotong rambut dan kuku) sampai ia bersuci. Namun bagi wanita haid apabila ia tidak sabar menunggu waktu selesainya masa haid karena tidak teraturnya masa bersuci maka diperbolehkan untuk memotongnya, sebaliknya jika ia masih bisa menahan maka tetap disunnahkan untuk tidak memotongnya." (azki tazkiyah).
Namun bagi wanita haid apabilla ia tidak sabar untuk menunggu waktu selesainy masa haid karena tidak teraturnya masa bersuci maka diperbolehkan untuk memotongnya, sebaliknya jika ia masih bisa menahan maka disunnahkan untuk tidak memotongnya.
Jadi tidak ada larangan syar'i bagi orang yang junub maupun wanita haid dan nifas untuk memotong rambut,kuku,dan sebagainya,terlebih jika ia tidak dapat menahan untuk melalukannya sampai akhir masa junub atau haidnya.
Sumber:www.harakahislamiyah.com Hukum memotong kuku saat haid
Namun bagi wanita haid apabilla ia tidak sabar untuk menunggu waktu selesainy masa haid karena tidak teraturnya masa bersuci maka diperbolehkan untuk memotongnya, sebaliknya jika ia masih bisa menahan maka disunnahkan untuk tidak memotongnya.
Jadi tidak ada larangan syar'i bagi orang yang junub maupun wanita haid dan nifas untuk memotong rambut,kuku,dan sebagainya,terlebih jika ia tidak dapat menahan untuk melalukannya sampai akhir masa junub atau haidnya.
Sumber:www.harakahislamiyah.com Hukum memotong kuku saat haid
Posted in Fiqih Wanita
Minggu, 16 Juni 2019
Akhlak Tercela Israf, Tabzir, dan Bakhil
Posted by ROHIS.SMAHA on Juni 16, 2019 with 17 comments
AKHLAK TERCELA ISRAF
1. Pengertian Israf
Israf adalah
melampaui batas atau berlebih-lebihan. Israf ialah membelanjakan harta atau
menggunakan sesuatu yang melebihi batas kewajaran atau berlebih-lebihan. Orang
yang suka berlebih-lebihan dalam menggunakan harta disebut musrif (pemboros).
Allah SWT. melarang perbuatan
boros dalam firman-Nya:
"Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku,
dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melampaui batas, yang
berbuat kerusakan di bumi dan tidak mengadakan perbaikan." (Qs.
Asy-Syu'ara'/26: 150-152)
2. Penyebab Perilaku Israf
a. Latar belakang
keluarga. Bila orang tua membiasakan israf , anak-anak akan berperilaku israf
pula
b. Perubahan secara spontan dalam hal kekayaan. Orang miskin yang
tiba-tiba menjadi kaya
biasanya cenderung berperilaku israf.
c. Berteman dengan pemboros
d. Pengaruh istri
dan anak yang ingin hidup mewah dan boros
e. Kurang mampu
mengendalikan berbagai tuntunan jiwa sehingga memperturuti nafsu yang mendorong kepada perilaku israf.
3. Macam-Macam Perilaku Israf
a. Berlebihan
dalam belanja
b. Berlebihan
dalam makan
c. Berlebihan
dalam memenuhi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier.
4. Nilai-Nilai Negatif Israf
a. Mendorong pola
hidup individualistik
b. Menimbulkan
kesombongan
c. Cinta harta
d. Kesenjangan
sosial
5. Cara Menghindari Perbuatan Israf
a. Hidup hemat dan
sederhana
b. Tidak tergoda
kemewahan hidup
c. Tidak
menghamburkan harta
d. Membuat skala
prioritas dalam berbelanja.
AKHLAK TERCELA TABZIR
1. Pengertian Tabzir
Tabzir ialah
perilaku pemborosan harta dalam hal-hal yang haram dan kemaksiatan kepada
Allah, sedangkan israf ialah perilaku pemborosan harta dalam hal-hal yang
dibolehkan atau hal-hal diharamkan oleh agama. Keduanya identik dalam
pemborosan harta, tetapi tidak identik dalam objek yang diboroskan.
Allah SWT. melarang tabzir dalam firman-Nya:
"Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga
kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu
mengambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang
pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada
tuhannya." (Qs. Al-Isra'/17: 26-27)
2. Macam-Macam Perbuatan Tabzir
a. Mengeluarkan
harta untuk kemaksiatan
b. Membeli barang
primer secara boros
c. Membelanjakan
barang sekunder untuk pamer
d. Membeli
kebutuhan tersier dengan niat sombong
3. Nilai-Nilai Negatif Perbuatan Tabzir
a. Dekat dengan
sumber kejahatan / setan
b. Terjebak pada
dosa besar
c. Masa bodoh
terhadap lingkungan
4. Cara Menghindari Perbuatan Tabzir
a. Menyadari dan
memahami bahaya tabzir
b. Hidup hemat dan
sederhana
c. Merasakan
kehidupan fakir miskin
d. Membuat skala
prioritas dalam belanja
AKHLAK TERCELA BAKHIL
1. Pengertian Bakhil
Bakhil adalah
perilaku tercela yang disebabkan egoisme yang berlebihan dan tidak adanya
empati. Orang yang bakhil mempunyai hati yang keras, tidak punya rasa belas
kasihan, dan tidak berperikemanusiaan.
Allah Swt. berfirman:
"Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan
apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir)
itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang
mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat. Milik
Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Mahateliti
terhadap apa yang kamu kerjakan." (Qs. Ali Imran/3: 180)
2. Macam-Macam Perbuatan Bakhil
a. Bakhil untuk
menunaikan kewajiban zakat
b. Bakhil untuk
mengeluarkan sedekah demi kepentingan Allah
c. Bakhil untuk
mengeluarkan infak untuk membantu orang tua sendiri, saudara, dan keluarga yang
sedang kesulitan ekonomi
3. Nilai-Nilai Negatif Perbuatan Bakhil
a. Disiksa di
akhirat
b. Dijauhi Allah
c. Dibenci manusia
d. Dijauhkan dari
surga
e. Didekatkan dengan
neraka
f. Dapat memutus silaturrahim
4. Cara Mencegah Penyakit Bakhil
a. Menyadari dan
memahami bahaya bakhil
b. Hidup hemat
dan sederhana
c. Menyadari
realitas kehidupan orang miskin dan duafa
d. Berusaha
membantu sesama
e. Menumbuhkan kesadaran sosial
Semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang memiliki akhlak tercela. Amin yaa rabalalamin.
Semoga dapat bermanfaat dan dapat membantu ๐
***** ROHIS SMAHA *****
Sabtu, 15 Juni 2019
Kejayaan islam di masa Dinasti Abbasiyah
Posted by ROHIS.SMAHA on Juni 15, 2019 with No comments
https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/04/10/m28wkr-kilau-baghdad-di-era-abbasiyah-2
Al-Qasr Az-Zahabi (Istana Emas).
Dinasti Abbasiyah adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad
(sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah
dan menundukkan semua wilayahnya kecuali Andalusia.
Pendiri Dinasti Abbasiyah adalah Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin
Abdullah bin al-Abbas. Bisa dibilang dinasti ini disebut Abbasiyah karena
memang didirikan oleh keturunan Al-Abbas yang merupakan paman dari Rasulullah
SAW. Masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah yakni dari 750 M/132 H sampai 1258 M/656
H.
https://id.wikibooks.org/wiki/Islam_Abad_Pertengahan/Sejarah/Abbasiyah#/media/Berkas:Abbasid_Caliphate_most_extant.png
wilayah terluas dinasti abbasiyah Kelompok dari Abbasiyah ini, jika dilihat dari garis keturunan, memang lebih mendekati Nabi Muhammad dari pada bani Umayyah. Karena inilah, kelompok Abbasiyah merasa lebih pantas untuk memimpin umat islam dibandingkan Bani Umayyah. Hingga pada akhirnya, Dinasti Abbasiyah pun berdiri setelah kekhalifahan terakhir Dinasti Umayyah, Marwan bin Muhammad, ditaklukkan.
Setidaknya, ada beberapa khalifah yang terkenal karena keberhasilannya membawa Dinasti Abbasiyah pada puncak kejayaan. Pertama adalah Abu al-Abbas al-Saffah. Pusat pemerintahan saat itu berada di Kuffah. Ia dikenal tegas dan pada masa pemerintahannya ia melakukan konsolidasi untuk memajukan peradaban Islam.
Kemudian, tonggak kepemimpinan digantikan oleh Abu Jafar al-Mansur yang berkuasa dari 750 M sampai 775 M. Abu Jafar yang merupakan saudara dari Abu al-Abbas ini memimpin selama 25 tahun. Saat memerintah, ia membangun ibu kota baru bernama Baghdad. Di dalamnya terdapat istana yang dinamai Madinat as-Salam.
Pusat pemerintahan pun dipindahkan dari Kuffah ke Baghdad. Di masa itulah, ilmu pengetahuan mulai dibius untuk berkembang. Pada periode awal antara 750 M sampai 847 M, Dinasti Abbasiyah masih mengutamakan kegiatan memperluas wilayah. Dinasti ini juga membuat pondasi sistem pemerintahan yang menjadi pegangan di kepemimpinan selanjutnya.
Seusai Abu Jafar al-Mansur, Dinasti Abbasiyah dipimpin oleh khalifah yang dalam sejarahnya berhasil membawa dinasti tersebut ke puncak kejayaan. Ia adalah Harun al-Rasyid, yang masa kepemimpinannya dari 789 M sampai 809 M. Selama memimpin, ia mendirikan perpustakaan terbesar pada zamannya, bernama Baitul Hikmah. Saat itu orang-orang baik dari kalangan Muslim maupun dari Barat, turut datang ke kota Baghdad untuk mendalami ilmu pengetahuan.
Baitul Hikmah juga dijadikan sebagai tempat untuk menerjemahkan karya-karya intelektual dari Persia dan Yunani. Beberapa proyek besar yang dihasilkan selama pemerintahan Harun al-Rasyid, yakni keamanan dan kesejahteraan seluruh rakyat, pembangunan Kota Baghdad, pembangunan sejumlah tempat ibadah, dan sarana pendidikan.
Saat dipimpin Harun al-Rasyid, Dinasti Abbasiyah juga menaruh perhatian pada pengembangan ilmu kesusasteraan, kebudayaan dan kesenian-kesenian lainnya. Aktivitas keilmiahan di dinasti ini terus dilakukan pada berbagai bidang. Kejayaan keilmuan di masa ini berkontribusi besar dalam memajukan peradaban dunia kala itu. Bahkan hingga sekarang.
Setelah kepemimpinan Harun al-Rasyid berakhir, khalifah di masa Abbasiyah yang masyhur setelahnya adalah al-Makmun al-Rasyid. Al-Makmun anak dari Harun al-Rasyid. Kekhalifahan al-Makmun didahului oleh saudaranya, al-Amin.
Selama memimpin Dinasti Abbasiyah dari 813 M sampai 833 M, al-Makmun memperluas Baitul Hikmah yang didirikan ayahnya, Harun al-Rasyid, sebagai akademi Ilmu Pengetahuan pertama di dunia. Baitul Hikmah diperluas hingga menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan, dan tempat penelitian. Di dalamnya terdapat ribuan buku ilmu pengetahuan.
Lembaga lain yang didirikan al-Makmun adalah Majalis al-Munazharah. Lembaga ini menyelenggarakan pengkajian keagamaan di rumah-rumah, masjid-masjid, dan istana khalifah. Lembaga ini menjadi tanda kekuatan penuh kebangkitan Timur, di mana Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan dan puncak keemasan Islam.
Pada masa kepemimpinan al-Makmun, kegiatan penerjemahan mendapat sorotan yang tinggi. Terutama penerjemahan naskah-naskah ilmu pengetahuan dan filsafat tradisi Yunani. Penerjemah saat itu mendapat bayaran yang tinggi.
Setelah al-Makmun, kepemimpinan Dinasti Abbasiyah di ujung waktunya, adalah Khalifah al-Mutawakkil dari 847 M sampai 861 M. Nama lengkapnya adalah al-Mutawakkil Alallah, Jafar, Abu Al-Fadhl bin Mutashim bin Ar-Rasyid. Model pemikirannya cenderung Ahlun Sunnah. Ini berbeda dengan khalifah sebelumnya yang banyak menaruh perhatian pada pemikiran Muktazilah.
Sebelum lengser, al-Mutawakkil sudah merencanakan, bahwa sebelum dirinya wafat, ia akan memberi mandat kepemimpinan kepada anak-anaknya. Pertama kepada al-Muntashir, lalu al-Mu'taz dan kemudian al-Muayyad. Namun, al-Mutawakkil mengubah mandat, dari sebelumnya kepada al-Muntashir, berubah kepada al-Mu'taz.
Namun al-Muntashir tidak mau. Karenanya al-Mutawakkil langsung menurunkan posisi Al-Muntashir dengan paksa. Peristiwa ini bersamaan dengan ketidaksenangan orang-orang Turki terhadap al-Mutawakkil karena beberapa masalah. Karena menganggap al-Mutawakkil sebagai "musuh bersama", lantas orang-orang Turki dan al-Muntashir bersepakat membunuh sang khalifah atau ayah dari al-Muntashir sendiri.
Kekuasaan Dinasti Abbasiyah pun dipegang al-Muntashir, tapi hanya sekitar enam bulan. Sebab setelah jabatan khalifah diraih, ia malah menjelek-jelekkan orang Turki. Sehingga, orang Turki pun berencana membunuhnya. Upaya ini dilakukan dengan cara memperalat seorang dokter istana yang bernama Ibnu Thayfur dengan imbalan uang sebanyak 30.000 dinar.
Dokter tersebut melakukan aksinya saat mengoperasi Khalifah Al-Muntashir dengan menggunakan pisau beracun. Sumber referensi lain menyebut wafatnya al-Muntashir karena dicekik Namun yang dapat dipastikan, ia dibunuh oleh orang-orang Turki yang telah membantunya membunuh al-Mutawakkil atau ayah sendiri, untuk mendapat posisi khalifah.
Mulai dari situ, Dinasti Abbasiyah semakin merosot. Meskipun, ada banyak faktor lain yang menyebabkannya jatuh. Misalnya tidak adanya kontrol terhadap sejumlah provinsi sehingga ada beberapa yang memisahkan diri dari Baghdad. Sedangkan kalau dilihat faktor eksternalnya, yakni karena adanya Perang Salib dan serangan tentara Mongol.
https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/12/01/p08q0e396-melongok-kembali-kembali-dinasti-abbasiyah
https://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Abbasiyah
https://id.wikibooks.org/wiki/Islam_Abad_Pertengahan/Sejarah/Abbasiyah
Langganan:
Postingan (Atom)






